Tuesday, January 4, 2011

Upi Kepik yang Sombong



Di Taman Shangrilla, hidup sekelompok serangga kunang-kunang dan kepik. Mereka hidup tenang dan rukun satu sama lain. Bila pagi tiba, matahari mengirimkan kehangatan dan sinarnya di atas taman itu. Para kepik keluar dari sarang dan menjemur badannya yang bertotol-totol putih, agar terlihat semakin bercahaya. Masing-masing kepik saling membuka sayapnya seolah-olah sedang memamerkan keindahannya.
Adalah Upi, seekor kepik jantan yang bersayap sangat indah. Sayap merahnya bertotol hitam. Apabila sayapnya terbias sinar matahari, seolah-olah memantulkan cahaya merah berpendar-pendar. Semua kepik mengakui keindahannya.
Upi sangat bangga akan sayapnya yang indah dan memamerkannya keseluruh kepik yang lain. Bagi Upi, tidak ada seekor kepik pun yang memiliki sayap seindah miliknya. Ia mulai sombong dan gemar menghina teman lainnya. Upi juga merebut batu tinggi di sela-sela semak tempat biasanya para kepik berjemur secara bergantian. Tidak ada lagi yang boleh berjemur di batu kecuali dirinya.
Suatu hari, ketika Upi kepik sedang berjemur sambil sibuk mengepakkan sayap, datanglah segerombolan anak kecil yang sedang asyik bermain di Taman Shangrilla. Upi sangat terkejut mendengar suara gaduh anak-anak yang sedang menyiangi semak untuk mencari kepik.
Tatkala Upi ingin terbang bersembunyi, tiba-tiba ia merasa sekelilingnya menjadi gelap dan batu yang dipijaknya bergoyang. Upi sangat panik dan ketakutan. Dia berteriak-teriak minta tolong. Ia tidak mendengar suara satu ekorpun temannya. Yang ia tahu, semuanya menjadi gelap dan pengap.
Upi pingsan. Ketika tersadar, ia mendapati dirinya dalam sebuah ruangan kaca yang sempit dan pengap. Ia mencoba mengenali keadaan sekeliling. Rupanya ia berada dalam sebuah botol kaca bekas tempat selai. Upi ketakutan. Dia berteriak sekerasnya tetapi tidak ada jawaban.
Tiba-tiba ia melihat seraut wajah anak laki-laki mendekat ke arahnya. Seketika tempatnya berpijak bergoyang. Beni, si anak laki-laki itu mengguncang-guncang botol selai. Ia penasaran, mengapa kepik yang ia tangkap tidak mengembangkan sayapnya. Rupanya, ketika Upi memamerkan keindahan sayapnya, Beni melihatnya. Ia tertarik dan kemudian menangkapnya.
Bukan main pusingnya kepala Upi. Ia merasa lemas dan ingin terbang. Tapi tidak sanggup lagi menggerakkan sayapnya. Upi menangis. Ia teringat oleh teman-temannya di Taman Shangrilla. Ia ingat semua kelakuan buruk yang pernah dilakukannya kepada mereka. Upi sedih sekali. Ketika ia sendiri dan terperangkap seperti ini, baru disadari, ia membutuhkan teman-temannya.
Upi benar-benar ingin segera lepas dari botol selai ini dan kembali ke Taman Shangrilla. Ia akan meminta maaf pada semua temannya atas perilakunya yang sombong. Upi mencari akal. Ia melihat di sudut ruangan kamar Beni ini, ada seekor kucing gemuk dan besar sedang tidur. Upi berusaha menarik perhatian kucing malas itu.
Upi mengepakkan sayapnya. Punggungnya dibenturkan ke dinding botol selai dan tutupnya. Terdengar bunyi tik-tik. Namun rupanya masih terdengar terlalu pelan. Si kucing belum membuka matanya. Dia ulangi lagi aksinya. Sampai ketika ia mengepakkan sayapnya dan terpantul cahaya matahari dari jendela, si kucing mulai membuka matanya.
Ya! Usahanya berhasil. Kucing gemuk itu mulai berjalan mengendap-endap mendekati botol selai. Ia memperhatikan isi di dalamnya. Hidungnya yang basah mengendus-endus tutupnya. Upi membenturkan lagi punggungnya. Gerakan Upi memancing kucing semakin penasaran. Tidak hanya mengendus tapi kaki depannya mulai menggapai botol selai.
Upi semakin bersemangat untuk terbang di dalam botol dan membenturkan punggungnya. Si kucing merasa mendapatkan mainan. Ia semakin gemas, karena tidak berhasil membuka botol. Karena terlalu keras menggapai botol, akhirnya terguling dan menggelinding jatuh ke lantai.
Praaak. Botol selai pecah berantakan. Secepat kesempatan terbentang di depan mata, Upi terbang setinggi-tingginya. Beberapa kali ia menabrak dinding dan terjatuh. Tapi ia tidak putus asa. Ia terus berusaha sampai akhirnya ia menemukan celah jendela yang terbuka. Pfuuih, akhirnya Upi berhasil terbang di udara bebas. Upi senang bukan main. Tujuannya hanya satu, Taman Shangrilla, rumahnya, tempat di mana teman-teman Upi berkumpul. Dan ia tak sabar untuk segera meminta maaf kepada mereka atas semua perilaku buruknya. (07102010). @ dhenk 
 

No comments:

Post a Comment